Sehat dengan Si Cantik


Sehat dengan Si Cantik

Di balik kecantikannya, sirih merah menyimpan beragam khasiat. Dari sekadar pegal-pegal hingga penyakit-penyakit degeneratif.

Beberapa tahun lalu sirih merah sempat sangat populer di kalangan pecinta tanaman hias. Tanaman keluarga Piperaceae ini menampilkan warna merah marun yang cantik pada permukaan bawah daunnya. Sementara bagian permukaan atas daunnya hijau keunguan dan keperakan pada tulang daunnya. Dibandingkan sirih hijau, daun sirih merah cenderung lebih tebal dan kaku.

Seperti saudaranya itu yang telah lama dikenal sebagai tanaman berkhasiat, sirih merah pun menyimpan beragam manfaat bagi tubuh. Si  Merah ini juga sudah lama dimanfaatkan secara tradisional dalam pengobatan maupun upacara adat.

Teh dan Ekstrak

Henri Kristiantoro melihat manfaat sirih merah sebagai peluang bisnis. Berawal dari sang ibu yang membudidayakan sirih merah, Henri lalu tertarik untuk mencoba mengembangkannya. “Saya kembangkan, kemudian diambil oleh Sekar Kedhaton (Yogyakarta) untuk dibuat teh dan ekstraknya. Mereka (ahli herbal) bilang, ini khasiatnya bagus,” ungkap CEO tehsirihmerah.com ini saat ditemui AGRINA di rumahnya, kawasan Meruya Utara, Jakarta Barat.

Pembuatan teh dan ekstrak sirih merah, diakui Henri, merupakan solusi bagi konsumen. “Saya pernah coba air rebusannya, itu memang pahit luar biasa. Kalau yang biasa minum jamu mungkin tidak masalah, tapi kalau tidak (biasa), ya repot,” katanya sembari tersenyum.

Masih menurut Henri, air rebusan daun sirih merah dibuat dari tiga lembar daun yang dicacah, direbus dalam 500ml air hingga tersisa dua-tiga gelas, dikonsumsi pagi dan sore hari.Dengan dibuat teh celup, sirih merah lebih praktis karena mengandung tambahan herbal lain seperti jahe,pegagan,daun mint,dan kayu manis untuk menghilangkan rasa pahit. Sedangkan tambahan daun mint membuat teh sirih merah terasa segar saat dikonsumsi.

Berbeda dengan teh, ekstrak sirih merah yang dikemas dalam kapsul tidak mengandung tambahan herbal lain.”karena itu,kalau untuk pengobatan lebih dianjurkan munim ekstraknya.Teh juga bisa, tapi lebih untuk konsumsi sehari-hari,”jelas Sarjana Akuntansi, Universitas Islam indonesia Yogyakarta ini.

Untuk pengobatan Henri menganjurkan konsumsi eksrteak dau-tiga kali sehari,dua kapsul sekali minum.”Biasanya dalam dua minggu sudah ada perubahan. Kalau sudah lebih baik, yang tadi kita konsumsi tiga kali, dikurangi jadi dua kali. Kalau memang sudah Normal, sekali sudah cukup,” paparnya. Sedangkan teh sirih merah dapat dikonsumsi sebagai pengganti teh biasa. Biasanya dikonsumsi sehari sekali,dengan atau tanpa gula.

Kaya Khasiat

Manfaat pertama yang dirasakan Henri setelah mengkonsumsi sirih merah adalah staminanya lebih prima. Setelah seharian bekerja atau melakukan aktivitas berat, konsumsi teh sirih merah mengurangi rasa lelah sehingga tubuh menjadi lebih segar. Tambahan lagi, ayah satu putri ini mengakui kadar asam lambungnya tinggi sehingga sering merasa mual,kembung,dan pusing. Setelah mengkonsumsi teh dan ekstrak sirih merah, keluhannya pun hilang tanpa resep dokter.

Tidak hanya keluhan ringan seperti Henri, sirih merah pun bisa menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes. Daun sirih merah mengandung senyawa fitokimia alkoloid, saponin, tanin, dan flavonoid. Senyawa Alkoloid dan flavonoid sendiri mempunyai aktifitas hipoglikemik, yaitu menurunkan kadar glukosa dalam darah.

Manfaat tersebut telah teruju secara preklinis.Uji yang dilakukan balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro),Bogor, menunjukkan, pemberian ekstrak sirih merah 20g per kg bobot kitus menurunkan kadar glukosa darah tikus sebesar 34,3 persen. Hasil ini lebih tinggi dibandingkan dengan obat antidiabetes komersial yang hanya menurunkan 27 persen glukosa darah.

“Konsumen saya banyak penderita diabetes. Ada lagi, kalau dibuka kapsulnya, ekstrak itu kita tabur di luka diabetes, itu cepat kering. Bonusnya setelah minum ekstrak ini, kolesterol dan asam urat pun ikut turun,” tutur Henri yang lahir di Kendal, Jateng, 32tahun silam itu.

Menurut dia, bila masih stadium ringan, penderita diabetes dapat merasakan perubahan dalam dua minggu, dan membaik setalah satu-dua bulan. Memang, konsumsi ini sebaiknya diiringi kedisiplinan penderita dalam mengatur asupan makanannya. Selain diabetes, penderita radang usus hingga payudara pun merasakan manfaat teh dan Ekstrak sirih merah.

Sistem Online

Berbekal pengalaman dan pengetahuannya mengenai sirih merah. Sejak awal 2009 suami Desi Yuresta ini memberanikan diri untuk terjun sebagai distributor teh dan ekstrak sirih merah. Keduanya diambil langsung dari produsen Sekar Kedhaton di Yogyakarta.

Henri mengungkapkan,”Awalnya saya ikut berbagai macam pameran, setelah cukup yakin dengan pasar, saya mulai memasarkan secara online sejak awal 2010.” Melalui situs Tehsirihmerah.com, pria ramah nin menjaring cukup banyak pembeli.Dalam sebulan, ia dapat menjual 100 hingga 150 pak teh dan ekstrak sirih merah.

Untuk Mempermudah pembeli, pria yang aktif diberbagai komunitas UKM ini pun menggandeng beberapa mitra dan agen penjual. Saat ini toto sembilan agen di beberapa kota, yaitu Pangkal Pinang, Palembang, Lahat, Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Bandung, Balikpapan, dan Depok.

Teh sirih merah dijual dengan harga Rp 55 ribu per kotak berisi 20 kantong, sedangkan ekstraknya dibanderol Rp135 ribu isi 60 kapsul. Harga masih menjadi keluhan banyak konsumen saat ini. “Ini karena sistem budidaya yang organik, dan tanaman yang memang cenderung rewel tadi,”alasannya.

Renda Diennazola

Lebih lanjut mengenai liputan ini baca di Tabloid AGRINA versi Cetak volume 7 Edisi No. 166 yang terbit pada Rabu, 23 November 2011.

Dunia Herbal

Kalau kita bicara pengobatan herbal maka pikiran kita pasti melayang ke obat tradisional, jamu gendong, warung yang menyediakan jamu kemasan untuk obat sakit kepala atau masuk angin. Tidak salah memang sebab herbal memang masuk kategori obat tradisional. Di negara Asia lainnya terutama Cina, Korea dan India untuk penduduk pedesaan, obat herbal masuk dalam pilihan pertama untuk pengobatan, dinegara maju pun saat ini kecenderungan beralih kepengobatan tradisional terutama herbal menunjukan gejala peningkatan yang sangat signifikan.

Dari hasil Susenas tahun 2007 menunjukan di Indonesia sendiri keluhan sakit yang diderita penduduk Indonesia sebesar 28.15% dan dari jumlah tersebut ternyata 65.01% nya memilih pengobatan sendiri menggunakan obat dan 38.30% lainnya memilih menggunakan obat tradisional, jadi kalau penduduk Indonesia diasumsikan sebanyak 220 juta jiwa maka yang memilih menggunakan obat tradisional sebanyak kurang lebih 23,7 juta jiwa, suatu jumlah yang sangat besar.

Pengobatan tradisional sendiri menurut Undang-undang No 36/2009 tentang Kesehatan melingkupi bahan atau ramuan berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian [galenik] atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan. Sesuai dengan pasal 100 ayat (1) dan (2), sumber obat tradisional yang sudah terbukti berkhasiat dan aman digunakan akan tetap dijaga kelestariannya dan dijamin Pemerintah untuk pengembangan serta pemeliharaan bahan bakunya. Indonesia sendiri yang terletak didaerah tropis memiliki keunikan dan kekayaan hayati yang sangat luar biasa, tercatat tidak kurang dari 30.000 jenis tanaman obat yang tumbuh di Indonesia walaupun yang sudah tercatat sebagai produk Fitofarmaka [bisa diresepkan] baru ada 5 produk dan produk obat herbal terstandar baru ada 28 produk. Terlihat potensi yang masih belum digali masih sangat besar dalam pengembangan obat herbal terutama yang merupakan produk herbal asli Indonesia. Tahun 2007 telah dicanangkan oleh pemerintah bahwa Jamu adalah Brand Indonesia, walau pada kenyataannya masih dianggap strata paling bawah dalam pengobatan karena belum teruji secara ilmiah.

Dunia Kedokteran Indonesia sendiri secara perlahan mulai membuka diri menerima herbal sabagai pilihan untuk pengobatan, bukan sekedar sebagai pengobatan alternatif saja, ini terbukti dengan berdirinya beberapa organisasi seperti Badan Kajian Kedokteran Tradisional dan Komplementer Ikatan Dokter Indonesia pada Muktamar IDI XXVII tahun 2009, Persatuan Dokter Herbal Medik Indonesia [PDHMI], Persatuan Dokter Pengembangan Kesehatan Timur [PDPKT] dan beberapa organisasi sejenis lainnya. Ini semua menggambarkan dunia kedokteran walau masih belum terbuka lebar tetapi para pelakunya, yaitu para dokter mulai melihat potensi yang besar dan ternyata bisa dikembangkan dalam pengobatan berbasis obat herbal, tidak hanya untuk menangani penyakit yang ringan saja tetapi juga untuk mengatasi penyakit yang berat.

Ketergantungan masyarakat terhadap obat konvensional kedokteran diharapkan bisa secara pasti diganti dengan masuknya obat herbal, saat ini ternyata 95% bahan baku obat konvensional masih di import, berapa banyak devisa yang bisa dihemat bila peralihan ini berjalan mulus. Memasuki tahun 2010, Badan Litbang Depkes mempelopori suatu usaha yang sangat terpuji dan patut didukung penuh yaitu dengan membuat model “Rumah Sehat” atau “Klinik Jamu”, model ini akan menerapkan penggunaan jamu sebagai obat yang diberikan dokter untuk pasiennya, suatu terobosan yang didukung oleh kebijakan pemerintah dan akan diuji coba didaerah Jawa Tengah pada awal tahun 2010. Dipilihnya Jawa Tengah mungkin juga dengan pertimbangan saat ini banyak perusahaan Jamu dalam skala kecil sampai besar yang berlokasi di Jawa Tengah serta kebiasaan orang jawa meminum jamu sejak dulu.

Bekerjasama dengan GP Jamu [Gabungan Pengusaha Jamu] sebagai penyedia kebutuhan obat herbal, Rumah Sehat ini akan dipimpin oleh Dokter sebagai penanggung jawab dan yang menggembirakan ternyata sudah cukup banyak para dokter yang berminat dan terdaftar untuk mempelajari serta mendalami pengobatan herbal. Memang masih memerlukan banyak persiapan, baik secara mental dari para dokter yang memberikan obat serta merubah persepsi pasien bahwa pengobatan herbal atau “minum jamu” itu ketinggalan jaman, kita harus bisa menerima kenyataan bahwa jaman sudah berubah, mencontoh Cina yang dengan berani memberikan pilihan kepada pasien untuk menggunakan pengobatan dengan obat konvensional atau tradisional. Saatnya juga bagi perusahaan jamu yang peduli dengan khasiat serta mutu untuk mulai menerapka standar yang berlaku seperti GMP, SNI, CPOTB sampai HACCP agar keyakinan masyarakat atas mutu produk yang dihasilkan bisa diperoleh.

Dukungan dari semua pihak, baik para pelaku petani yang diharapkan memberikan hasil olahan tanaman herbal dengan kualitas tinggi, keterlibatan dunia perguruan tingga dan swasta untuk melakukan uji coba khasiat obat herbal, kemudahan peraturan dan dukungan penuh pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan dan BPOM akan menjadikan Indonesia menjadi salah satu Negara terkemuka yang menghasilkan Obat Herbal bermutu tinggi dan menjadikan Pengobatan Tradisional terutama Herbal bukanlah sekedar Pengobatan Alternative belaka.

Salam dari pecinta Tanaman Obat Indonesia

Sumber : Informasi Herbal

Liputan Majalah Agrofarm utk TehSirihMerah.com

Liputan Majalah Agrofarm

Teh Sirih Merah
Segar & Berkhasiat

SIRIH MERAH DIKENAL ORANG KARENA KEINDAHAN DAUNNYA. MENYERUPAI BENTUK HATI DAN BERWARNA MERAH KEPERAKAN JIKA TERKENA CAHAYA. TAPI TERNYATA TIDAK HANYA ITU. TANAMAN YANG TUMBUH MERAMBAT INI TELAH LAMA DIKETAHUI MEMILIKIBANYAK KHASIAT UNTUK PENGOBATAN. PENYAJIANNYA SEDERHANA. MULAI DARI DIREBUS HINGGA DIJADIKAN EKSTRAK. DAN YANG TERBARU ADA DALAM BENTUK KEMASAN TEH CELUP.

Adalah Henri Kristiantoro yang melakukan itu.CEO teh sirih merah ini berbagi cerita mengenai produk herbal ini. Ditemui Argofarm di kediamannya didaerah Meruya Selatan, Jakarta Barat, Lelaki ini bercerita banyak tentang produknya itu.
Menurutnya, semua itu berawal dari kesenangan ibunya terhadap tanaman sirih merah yang ditahun 2009 booming sebagai tanaman hias.Henri pun mulai mencari informasi ke herbalis di Yogyakarta mengenai khasiat tanaman ini. “kata mereka (Herbalis), iya, tanaman sirih merah ini bagus. Mereka juga sedang melakukan riset untuk pembuatan teh dan ekstrak herbalnya. Kemudian saya perbanyak, daunnya saya budidayakan dan saya hubungu mereka. Mereka ambil lalu dibuatlah teh sirih merah ini,” ucap dia.
Lokasi perkebunan sirih merah berada di Bntul, Yogyakarta, dengan luas lahan 200meter2. Pasca erupsi gunung merapi, abu vulkanik menutupi seluruh lahan perkebunan, sehingga tanaman herbal ini tidak dapat diolah. Namun saat ini sedang dibudidayakan lagi. Daun sirih merah yang diolah adalah daun yang memiliki kelebaran sekitar 8-12 cm, berusia 6 bulan setelah penanaman.
Teh sirih merah dikemas dalam bentuk teh sirih merah seperti teh celup biasa. Untuk menghilangkan pahitnya, maka teh sirih merah dicampur dengan beberapa tanaman herbal lainnya seperti daun teh, curcuma xanthorrhiza rhizome (temulawak), Centella herba (pegagang), Zingiberis Rhizome (jahe), Talinun sp.,dan daun pappermint. “Sirih merah ini kan pahit. Kalau direbus saja, itu rasanya pahit sekali, saya pernah coba,”aku henri.
Khasiat
Khasiat sirih merah sudah bukan rahasia lagi. Henri pun sudah merasakannya sendiri. Bapak satu anak ini sering mengalami maag akibat tingginya asam lambung. Setelah meminum air rebusan daun sirih merah, ia merasa lebih baik. Tidak hanya air rebusannya, Henri juga mengkonsumsi ekstrak sirih merah untuk pengobatannya. Hasil endoskopi yang dilakukannya setelah meminum ekstrak sirih merah, menunjukkan perkembangan yang jauh lebih baik dibandingkan sebelum meminum ekstrak tanaman herbal ini. Kini penyakit maag yang dideritanya sudah jarang kambuh.
“Bahkan ada konsumen saya, dia juga minum teh sirih merah untuk pengganti teh biasa. Kembung yang dideritanya perlahan hilang setelah rutin meminumnya setiap pagi,”tutur Henri.
Setelah mengatasi maag dan perut kembung, sirih merah terbukti menurunkan kadar gula dalam daranpada penderita diabetes. Khasiatnya dirasakan dalam kurun waktu 1-2 minggu setelah mengkonsumsi ekstrak sirih merah secara rutin. Menurut Henri, khasiat obat herbal akan terasa setelah dikonsumsi sekitar 1-2 minggu, “Kalau minumnya hanya sehari atau dua hari, belum terasa khasiatnya,” lanjut dia.
Teh ini juga berkhasiat untuk menghilangkan rasa nyeri dan pegal pada badan. Reaksinya dapat dirasakan keesokan hari setelah meminumnya. Kelebihan sirih merah adalah kandungan antiseptik, antikanker, antioksidan, serta antidiabetiknya yang tinggi berdasarkan hasil kromotogram. Kandungan antiseptiknya juga dapat mengobati radang usus.
Salah satu konsumen Henri di Bandung mengaku awalnya meminum ekstrak sirih merah untuk mengobali keputihan. Dia sudah mencoba berbagai obat herbal lainnya tapi tidak berhasil. Setelah meminum sirih ini, tidak hanya keputihan yang hilang, tetapi juga kadar kolesterolnya juga turun.
Teh sirih merah aman dikonsumsi untuk siapa saja, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Henri mengatakan, anaknya pun juga meminum teh herbal ini dan tidak ada efek samping yang dirasakan hingga kini.

Pemakaian dan Penyajian
Untuk pengobatan, konsumsi maksimal ekstrak sirih merah sebanyak 3x sehari masing-masing 2 kapsul, normalnya 2x sehari Sedangkan untuk pencegahan dan menjada daya tahan tubuh, tehsirih merah atau 2 kapsul ekstraknya dapat dikonsumsi per hari.
Teh sirih merah dapatdisajilan panas maupun dingin. Kalau tidak menderita diabetes boleh ditambahkan madu atau gula seperti penyajian teh biasa.

Bisnis Herbal
Menurut Henri, bisnis herbal perkembangannya sangat bagus dan prospektif. Itu karena masyarakat mulai sadar bahwa obat-obatan kimia sebenarnya berbahaya untuk tubuh. Obat kimia hanya menyembuhkan sesaat dan merusak organ tubuh lainnya, seperti hati dan ginjal karena langsung berasal dari bahan kimia. Sedangkan obat herbal yang berasal dari bahan alami mengatasi langsung ke sumber rasa sakit, meskipun reaksinya berlangsung agak lama.
Efek sambing obat kimia lebuh besar dibandingkan obat herbal. Namun bukan berarti obat herbal tidak memiliki efek samping. Pengolahan obat herbal juga dapat dapat menimbulkan efek samping, tapi lebih kecil dan masih bisa dinetralisir oleh tubuh.
“Kenapa saya bilang masih ada efek sampingnya. Karena herbal ini kan diolah dulu. Ada bahan kimia seperti kapsulnya. Itu yang menimbulkan efek samping. Namun pada dasarnya hanya sekian 0% saja,” papar Henri.
Henri mungungkapkan, bahwa produsen sirih merah tidak hanya mengambil tanaman ini dari kebun orang tuanya karena disana juga sudah banyak petaninya. Produsen membuka peluang pada masyarakat untuk membudidayakan dengan persyaratan yang telah ditentukan. “Kalau yang di kebun ibu saya itu kan tanaman organic menggunakan pupuk kandang, dan tidak disemprot pestisida. Jadi produsen juga n=mensyaratkan seperti itu,” jelasnya.
Harga per unit untuk teh sirih merah sebesar Rp. 55.000,- dan untuk eksraknya Rp. 135.000,-. Karena penjualannya yang melalui media online, Henri mendistribusikan produk herbal ini ke beberapa agen di luar pulau Jawa seperti di kota Medan, Palembang, dan Bontang. Selain agen juga terdapat Reseller yang mem-back up Agen.
Henri Pun menekankan perlu adanya kedisiplinan menjada pola makan dan olah raga.Seperti penderita diabetes, harus disiplin mengurangi asupan gula dan karbohidrat tinggi dan juga diimbangi dengan olah raga. Menurutnya, sumber penyakit ada pada makanan. “Makanan membuat kita sakit karena konsumsinya berlebihan. Makanan Berasal dari alam, pasti obatnya dari alam. Herbal ini bagus karena berasal dari alam juga,” pungkasnya.
Rizki rahmadani.

 

Manfaat Sirih Merah untuk Kesehatan & Kecantikan

Sirih merah sering ditanam atau dipelihara sebagai tanaman hias. Maklum, tanaman yang masuk dalam keluarga piperaceae ini menarik dipandang mata. Tapi kegunaannya tak sebatas menarik mata dan memperindah halaman atau taman. Sirih merah juga punya manfaat yang besar, baik terhadap kesehatan maupun kecantikan.

Sudah sejak dulu, sirih merah digunakan oleh para leluhur kita untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Di Jawa, misalnya, sirih merah digunakan untuk menyembuhkan ambeien, keputihan, dan menghilangkan bau mulut. Kandungan alkaloid dianggap berfungsi sebagai antimikroba.

Di China, sirih digunakan untuk meluruhkan kentut, menghentikan batuk, mengurangi peradangan, dan menghilangkan gatal. Sementara di India, daun sirih dikenal aromatik dan menghangatkan, bersifat antiseptik dan meningkatkan gairah seksual. Tanaman sirih mempunyai banyak spesies dan jenis yang beragam, seperti sirih gading, sirih hijau, sirih hitam, sirih kuning, dan sirih merah.

Sirih merah (Piper crocatum) termasuk dalam keluarga piperaceae. Tanaman ini tumbuh merambat di pagar atau pohon. Ciri khas sirih merah adalah batangnya bulat, berwarna hijau keunguan dan tidak berbunga. Daunnya bertangkai membentuk jantung hati dan bagian atasnya meruncing. Permukaan daun mengilap dan tidak merata. Daun yang subur berukuran 10 cm dan 5 cm. Bila dipegang, daun terasa tebal, dan kaku (tidak lemas). Sirih merah cenderung tumbuh di tempat teduh. Misalnya, di bawah pohon besar yang rindang. Bisa juga tumbuh subur di tempat yang berhawa sejuk. Kalau tumbuh di tempat teduh, daunnya akan melebar. Warna merah marunnya yang cantik akan segera terlihat bila daunnya dibalik. Batangnya pun tumbuh gemuk. Tapi bila terkena banyak sinar matahari, batangnya cepat mengering. Sebaliknya, bila terlalu banyak kena air, akar dan batangnya akan membusuk.

Yang membedakannya dengan sirih hijau adalah bila daunnya disobek, akan keluar lendir. Seperti sirih hijau, rasa sirih merah pun pahit getir. Namun aromanya lebih wangi dibandingkan dengan sirih hijau. Menurut dr Prapti Utami, konsultan dan penulis buku, secara empiris sirih merah dapat menyembuhkan penyakit diabetes miilitus, mencegah hepatitis, batu ginjal, menurunkan kolesterol, mencegah liver, radang prostat, radang mata, keputihan, maag, kelelahan, nyeri sendi, dan memperhalus kulit.

Itu karena sirih merah mengandung sejumlah senyawa aktif, antara lain flavonoid dan polevenolad yang bersifat antioksidan, antidiabetik, antikanker, antiseptik dan antiinflamasi. Sedangkan senyawa alkoloid mempunyai sifat antineoplastik yang juga ampuh menghambat pertumbuhan sel-sel kanker. Alkaloid adalah bahan organik yang mengandung nitrogen sebagai bagian dari sistem heterosiklik.

Seperti yang sudah dikatakan, sirih merah bisa dimanfaatkan untuk mengobati diabetes dan menurunkan hipertensi. Dengan meminum air rebusan sirih merah setiap hari, kadar gula darah akan turun sampai pada tingkat yang normal. Sirih merah dalam bentuk teh herbal juga bisa mengobati asam urat, kencing manis, maag, dan kelelahan. Ini telah diuji oleh Klinik Herbal Center di Yogyakarta.

Pasien sembuh dari diabetes karena mengonsumsi teh herbal sirih merah. Kandungan kimia lainnya yang terdapat di dalam daun sirih merah adalah minyak atsiri, hidroksikavicol, kavicol, kavibetol, allylprokatekol, karvakrol, eugenol, pcymene, cineole, caryofelen, kadimen estragol, terpenena, dan fenil propada. Karvakrol bersifat desinfektan, antijamur, sehingga bisa digunakan sebagai obat antiseptik untuk menghilangkan bau mulut dan keputihan. Eugenol bisa mengurangi rasa sakit, dan tanin mengatasi sakit perut.

Sirih merah banyak digunakan di Klinik Herbal Center sebagai ramuan atau terapi bagi penderita yang tidak dapat disembuhkan dengan obat kimia. Potensi sirih merah sebagai tanaman obat multifungsi sangat besar sehingga perlu ditingkatkan. Sirih merah dapat digunakan dalam bentuk segar, simplisia, maupun Ekstrak dan Teh.

(sumber : Lifestyle Okezone)

Sirih Merah, Obat Beragam Penyakit


Sirih Merah
Sebagai tanaman obat, manfaat sirih tak diragukan lagi. Jika selama ini orang lebih mengenal sirih berdaun hijau dengan kandungan antiseptiknya, kini ada jenis sirih merah yang dipercaya memiliki manfaat kesehatan yang lebih beragam.

Selama ini, orang mengenal tanaman sirih berdaun hijau yang secara turun temurun dimanfaatkan untuk mengatasi beragam keluhan seperti mimisan, mata merah, keputihan, membuat suara nyaring, dan banyak lagi. Khasiat daun sirih sudah teruji secara klinis. Hingga kini, penelitian tentang tanaman ini juga terus dikembangkan. Secara tradisional, daun sirih digunakan sebagai pelengkap dalam upacara adat, misalnya dalam perkawinan adat Jawa. Daun sirih juga dimanfaatkan untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan menyusurnya (makan sirih).

Namun, belakangan ini tanaman sirih merah (Piper betle L. Var rubrum), naik daun karena dipercaya memiliki manfaat obat yang jauh lebih beragam. Bentuknya pun jauh lebih menarik daripada sirih biasa. Meski belum diketahui dengan pasti asal tanaman obat ini, sirih merah sering ditemui di berbagai daerah. Contohnya di lingkungan keraton Yogyakarta dan lereng Gunung Merapi, Papua, Jawa Barat, Aceh, dan beberapa daerah lainnya.

Obat Keputihan
Pada awal tahun 2002, di sebuah desa di lereng Gunung Merapi, herbalis Bambang Sadewo, penulis buku Basmi Penyakit dengan Sirih Merah, secara tidak sengaja menemukan tanaman ini. Warna bagian bawahnya merah mengkilap dengan bentuk daun tidak berbeda dengan sirih hijau. Tanamannya menjulur memanjang dan beruas. Rasa daun sirih merah sangat pahit. Aromanya lebih tajam bila dibandingkan dengan sirih hijau. Meski kandungan kimia tanaman ini belum diteliti secara detail, dari hasil krematogram diketahui daun sirih merah mengandung flavonoid, senyawa polevenolad, tanin, dan minyak atsiri. Efek zat aktif yang terkandung daun sirih merah dapat merangsang saraf pusat dan daya pikir. Daun sirih merah memiliki efek mencegah ejakulasi dini, antikejang, antiseptik, analgetik, antiketombe, mengendalikan gula darah, lever, antidiare, meningkatkan daya tahan tubuh, dan meredakan nyeri. Juga dipercaya mampu mengatasi radang paru, radang tenggorokan, radang gusi, hidung berdarah atau mimisan, dan batuk berdarah. Ekstrak daun sirih merah juga mampu mematikan jamur Chandida albicans penyebab sariawan. Selain itu, berkhasiat mengurangi sekrasi pada liang vagina, keputihan dan gatal-gatal pada alat kelamin, sekaligus sebagai pembersih luka (efek antiseptik). Secara empiris ekstrak daun sirih merah dalam pemakaian tunggal atau diformulasikan dengan tanaman obat lain mampu membatasi aneka keluhan. Contohnya gangguan gula darah, peradangan akut pada organ tubuh, luka yang sulit sembuh, kanker payudara dan kanker rahim, leukemia, TBC dan radang hati, wasir, jantung koroner, darah tinggi, dan asam urat.

Hasil penelitian Andayana Puspitasari, Apt., dari Biologi Farmasi, Fakultas Farmasi UGM Yogyakarta, sirih merah mengandung flavonoid, alkoloid, senyawa polifenolat, tannin dan minyak atsiri. Memanfaatkan daun sirih merah ini, selain dalam bentuk segar, bisa juga dengan teknik pengeringan memakai sinar matahari. Herbalis Bambang Sadewo menjelaskan, rajangan dauh sirih merah yang telah 60 persen kering ditempatkan di tampah yang ditutup dengan kain hitam transparan. Penutupan dengan kain ini agar daun tidak kabur terbawa angin. Setelah kering benar, daun sirih merah dimasukkan ke dalam kantong plastik tebal transparan atau bening. Tujuannya, agar kualitas sirih merah tetap terjamin dan bisa bertahan hingga satu tahun. Ramuan sirih merah, tunggal atau campuran. Untuk meramu daun sirih merah, menurut herbalis Bambang Sadewo, dapat secara tunggal atau dicampur dengan tanaman obat lain.

Selain itu agar lebih mudah dan praktis dapat menggunakan Ekstrak dan Teh Sirih Merah yang diproduksi oleh Herbalis Bambang Sadewo dan dapat diperoleh disini

(sumber : Kompas.com)